Rabu, 15 Februari 2012

Manusia dan Pengelolaan Konflik

Makalah ini dipresentasikan pada mata kuliah Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, yang diasuh oleh Prof. Nainggolan. Berisi berbagi hal tentang manusia dan konflik. Berikut kutipan bagian awal dari makalaih ini:

Manusia merupakan makhluk sosial yang mempunyai sifat ketergantungan antara satu dengan yang lain. Hal ini dapat terjadi ketika adanya suatu proses interaksi sosial antara masyarakat itu sendiri. Secara kodrati manusia diciptakan bergolong-golongan ada pria ada wanita, ada kaya ada miskin, ada pemegang otoritas ada juga rakyat jelata. Perbedaan yang terjadi akibat dari penggolongan manusia ini merupakan suatu hal yang lazim terjadi di masyarakat karena berbagai faktor, namun untuk menyamakan persepsi, visi dan misi demi mencapai tujuan bersama maka dibutuhkannya sebuah wadah yang dapat menampung berbagai golongan dan perbedaan kepentingan itu sendiri yaitu berupa organisasi. 

Pembelajaran Berjaringan

Makalah ini dipresentasikan pada mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan, yang diasuh oleh Prof. Asmaniar. Isinya, membahas tentang pembelajaran berjaringan dan sumber daya yang mendukungnya. Berikut petikan pada bagian awalnya:

Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc. dalam makalahnya yang berjudul Pengembangan Terkini Sistem Pendidikan dan Pembelajaran di Perguruan Tinggi  memaparkan Pembelajaran adalah merupakan upaya sengaja dan bertujuan yang berfokus kepada kepentingan, karakteristik dan kondisi orang lain agar ia/mereka dapat belajar dengan efektif dan efisien . Istilah ini merupakan sebuah penekanan pada konsep di mana pembelajaran dapat terjadi sesuai dengan prinsip keanekaragaman peserta didik. Konsep ini lebih menekankan pada teori psikologi konstruktivistik dari pada teori psikologi behavioristik. Pada konsep pembelajaran ini peserta didik mendapat beraneka informasi berdasarkan pengalaman pembelajaran yang mereka dapatkan dan  diperoleh dari pengalaman belajar dari lingkungan sekitarnya. 

Kamis, 02 Februari 2012

Hanya Sepasang Sepatu

Catatan ringan oleh Mohamad Sahril.

Cerita ini membuat saya tersentak dan memulai lagi rutinitas, menulis sesuatu hal yang menghantui pikiran. Suatu ketika di zaman kolonial di Hindia (Jawa dan sekiratnya), sebuah berita diturunkan dalam satu-satunya koran pertama milik kaum pribumi di Bandung. Namaya adalah ‘Medan’, yang belakangan dikenal menjadi ‘Medan Prijai’, sebagai harian pertama yang dimiliki oleh kaum pribumi dan menggunakan bahasa Melayu.

Beritanya sangat sederhana tapi menarik untuk dicermati lebih jauh. Apalagi jika dikaitkan dengan gaya hidup orang yang akhir-akhir ini semakin memeprtanyakan esensi suatu benda yang melekat pada tubuh manusia sebagai pakaian, dan dimaksudkan sebagai simbol atau identitas budaya dan jati diri.

Begini ceritanya; hanya karena sepasang sepatu dan pakaian layaknya orang Eropa, seorang pemuda dalam berita Koran itu dianiaya oleh beberapa orang yang tak dikenal. Dalam berita itu diketaui si korban bernama Abdoel Moeis. Sepedanya dirusaki, bajunya disobek-sobek dan sepasang sepatunya entah kemana. Hilang. Sebagai pria dari kalangan terdidik, ia pun mengadukan bencana atas dirinya itu ke Polisi. Dan polisi tak menggubris masalah Moeis. Dengan susah payah dalam kondisi tak sepenuhnya sadar, pemuda itu digotong ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Secara kebetulan, seorang karyawan yang sesungguhnya bukan wartawan di harian Medan Prijai menulisnya. Dan berita itu menimbulkan reaksi dari Polisi.

Di suatu hari pada jam kantor, seorang polisi dengan pakaian dinas lengkap mendatangi kantor redaksi dan mengajukan keberatan terhadap pemberitaan itu. Walaupun sesungguhnya hanya sepasang sepatu, tapi buntutnya sangat menyudutkan pihak kepolisian, karena tak menggubris aduan pemuda itu. Sempat terjadi adu mulut antara polisi itu dengan pemimpin redaksi. Karena faktanya jelas dan saksi yang sekalian penulis berita itu juga bersedia diajukan ke pengadilan jika diperlukan. Akhirnya polisi itu kembali dengan penyesalan dan perasaan seperti ditelanjangi.

Situasi menjadi terbalik. Pengusutan justeru dilakuakan pada pelaku. Bukan pada karyawan Medan Prijai. Setelah ditelusuri, diketahui dalang dari pengeroyokan itu adalah Sang Patih Bandung. Pertentangan hukum juga sempat dikait-kaitkan dengan strata sosial seseorang. Sebab pada zaman itu, kalangan priyai tidak bisa diajukan ke pengadilan pribumi. Mereka punya aturan sendiri. Sang Pati tak disenuh pengadilan, begitu juga dengan Pimred Medan Priyai, karena memang ia adalah anak seorang Bupati.

Meski situasi pengadilan berlangsung alot dengan fakta-fakta terbaru, sasus di masyarakat juga menciptakan pro-kontra. Ada sebagian kalangan yang membenarkan pengeroyokan dengan alasan identitas. Tak pantas seorang pribumi bersepatu dan berpakaian layaknya Eropa. Soal menggunakan pakaian Eropa dianggap sebuah pelecehan terhadap adat dan nenek moyang. Mereka menganggap bahwa seorang pribumi harusnya berpenampilan layaknya nenek moyangnya dulu. Seolah perkembangan zaman hanyalah milik mereka yang pemilik dan memashurkan peradaban sendiri. Tapi sayangnya, alasan masyarakat yang muncul ketika itu bukan berupa penanda atas simbol kultural melalui mode.

Gerakan penyokong Abdoel Moeis hanya sedikit, hanya dari kalangan terpelajar. Apa arti dan guna sebuah sepatu? Tidak lain dari pakaian. Kalau orang berpakaian lain, apa tubuh dan jiwanya juga berubah secara mendadak? Sekiranya orang telanjang saat mandi di kali dan tidak menggunakan pakaian, apakah ia lantas menyalahi aturan leluhur dan tidak beragama? Apa pun pakaian yang ia gunakan, bukankah ia tetap telanjang bulat di dalamnya?

Pemberitaan Medan Prijai itu menciptakan polemik di tengah masyarakat, seiring banyaknya tanggapan yang muncul tentang kasus tersebut, terutama soal pakaian dan sepsang sepatu. Dan di bagian lain, ketiga penganiaya dipenjarakan. Sementara Sang Patih tak disentuh sama sekali oleh hukum.

Dari polemik yang terjadi selama beberapa minggu, besoknya para pemuda langsung menyerbu tokoh sepatu. Mereka memilih sesuka hati dan seleranya untuk mengenakan yang mana yang menurut mereka baik. Mulai saat itu, sepatu bukan lagi hanya digunakan kalangan Eropa di Hindia ataupun peranakan. Asal punya uang, bisa saja pribumi menggunakannya. Dan tokoh-tokoh sepatu pun meraup keuntungan dalam waktu singkat.

Disaruikan dari roman Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

Perkembangan Kognitif dan Bahasa dalam Hubungan Sosial dan Perkembangan Sosioemosional

Makalah ini membahasa tentang perkembangan kognitif dan bahasa anak, serta hubungan sosial dan perkembangan Sosioemosionalnya. Sebagai bahan diskusi, makalah ini dipresentasikan pada mata kuliah Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, yang diasuh oleh Prof. Z. S. Nainggolan, MA. Sebagai pengantar, berikut latar belakangnya:

A. Pendahuluan

Pada keseharian pergaulan kita semua baik dilingkungan social masyarakat maupun dilingkungan proses belajar dan pembelajaran di kelas. Kita tentu mengalami perubahan cara berkomunikasi, misalnya; pada saat dalam proses pembelajaran di kelas, antara siswa kelas rendah dan  siswa kelas tinggi, siswa kelas rendah menanyakan pertanyaan di kelas dengan lugas, langsung dalam bahasa yang sederhana yang kadang kala tidak ada subjeknya, tetapi langsung objek. Siswa kelas tinggi dalam mengajukan pertanyaan dengan kalimat yang lengkap, panjang serta memperhatikan kaidah-kaidah kesopanan.

Perkembangan pola berpikir siswa tersebut merupakan salah satu bentuk aktualisasi perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif pada dasarnya adalah perkembangan individu untuk memperoleh tahu. Struktrur berfikir, keterampilan berfikir, bagaimana individu memperoleh informasi merupakan potensi perkembangan kognitif. Cara siswa berfikir dapat kita pahami dari cara siswa menyampaikan pesan, baik berupa ide, pendapat, pertanyaan, maupun pernyataan. Kemampuan siswa merangkai kalimat, memahami pesan dan mempergunakan berbagai media untuk menyampaikan pesan merupakan aktualisasi dari perkembangan bahasa.

Perkembangan kognitif berhubungan dengan perkembangan bahasa. Perkembangan kognitif memfasilitasi kematangan perkembangan bahasa, dan sebaliknya perkembangan bahasa menfasilitasi perkembangan kognisi. Struktur berfikir memfasilitasi berkembangnya struktur kalimat yang dipergunakan oleh siswa. Sebaliknya penguasaan bahasa membuat siswa mampu memahami pesan sehingga memperoleh pengetahuan baru yang pada akhirnya memfasilitasi pengembangan struktur atau pola berfikir baru.

Rabu, 01 Februari 2012

Calculating of Praying

Sebuah catatan ringan oleh Ninin Herlina

Aku masih punya keyakinan akan megahnya bangsaku,,,

Optimismeku menghadirkan kesejahteraan yang jujur bagi segenap umat

hanya dengan doa yang penuh keyakinan...

Let's to Pray...

Manusia sepatutnya melakukan perencanaan sebaik mungkin dalam hidup, namun manusia juga tidak bisa terlalu sombong mengkalkulasikan kekuatannya dengan kehendakNya. apabila usaha manusia dikategorikan sama dengan doa (balancing) maka secara tidak langsung manusia menyamakan kekuatannya dengan Tuhan...dan itu jelas angkuh...

Sementara, kita bisa menganalisis sebiah ilustrasi berikut:

'Seseorang yang berusaha selama 5 bulan latihan lomba lari, dalam jangka waktu tersebut ia selalu berusaha keras untuk berlatih sambil terus berdo'a tanpa henti. Pada hari H-nya ia tentu memulai gerak langkah dengan do'a, sampai akhirnya ia terus berlari sambil berdoa dalam hati. Ketika ia mulai larut dalam kegiatan berlari pastinya ia akan berusaha berlari sekencang mungkin dengan do'a, bahkan dengan menutup mata dan memasrahkan diri dalam kekuatan Tuhan dengan melupakan teori2 bahwa dalam berlari tidak boleh menutup mata dan harus menatap lurus, konsentrasi atau tetek benegk lainnya...

Namun manusia yang tidak sombong pasti akan mengakui bahwa detik2 terakhir ia pasti berlari dengan kekuatan terkahir pula, dan ia benar2 lelah, hanya pasrah dalam kekuatan Tuhan agar ia menang.


Kita bisa menyimpulkan sebagaimana ilustrasi diatas, bahwasanya usaha, kekuatan manusia itu terbatas, dan sangat terbatas....

Kalo dulu saya sempat bertanya kepada dosen tentang kapasitas Usaha dan Doa, namun beliau tidak mau berkomentar banyak tentang itu. Maka saya menyimpulkan sendiri sekarang dengan lebih berani.....yaitu dengan sebuah renungan akan "calculation of praying and trying"

USAHA ≠ DO’A│DO’A > USAHA

Kita kembali lagi, sebesar apapun manusiaa menyusun berbagai konsep untuk kemenangan atau kejayaan, namun itu bukan sebesarnya perjuangan yang mampu mengalahkan kehendak Allah SWT.

Karena kata-kata familiar yang mungkin dianggap sebagai kalimat pembebas yaitu "Allah maha tahu yang terbaik", menjadi kekuatan besar bagi manusia utnuk menunduk dan menatap diri sebagai mahluk yang hanya memiliki kekuatan terbatas.

Apapun kenyataannya, Tuhan tidak mungkin menghadirkan keburukan bagi hamba-Nya yang beriman dan taat. Apalagi bangsa Indonesia masih memiliki banyak komunitas yang senantiasa memperjuangkan agama Allah swt, dan Insya Allah kita akan menemukan khalifah yang diridlai-Nya..amien...

Gambar dikutip dari: rickafitria.wordpress.com

Batasan Berfikir Manusia masa Kini

Catatan ringan oleh Ninin Herlina

Seorang pemikir terkadang menghabiskan kesehariannya dalam kesendirian,,,menarik diri dari hiruk pikuk kehidupan, melihat segala dinamika secara holistic, comprehensive

karena ketika ia tidak menarik diri dan terus berada didalamnya, maka akan sulit menemukan pemaknaan gerak kehidupan secara holistic, maka pendefinisian akan dilakukan dalam tataran pemaknaan yang dangkal,,,bahkan bisa jadi ia tidak sempat memikirkan untuk menghasilkan pemaknaan,,,karena kehidupan praktis justru menantang manusia untuk menang mempertaruhkan materi kehidupan,,,

Banyak pemikir yang tidak memiliki mal yang berlimpah,,tp kekyaan pemikirannya justru harta yang tak mampu dikalkulasi dengan materi kehidupan.

Aku masih kurang paham sebenarnya maksud Michel Foucoult menjabarkan “kembalinya Moral melalui Seks”,,tapi pendefinisiannya aku anggap kerap dihadapi semua insane, meski bukan dalam pemaknaan yang sempurna,,,karena memang pergulatan manusia saat ini adalah action semata,,sehingga luput daripda penggalian esensinya,,,

Padahal, bagi pemikir semua gerak memberi definisi yang tersirat, sehingga benar kiranya dalam kitab petunjuk disebutkan bahwa Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan usaha maupun doa hamba-Nya…semua memiliki nilai, namun sejauh mana hari ini kita mampu memberi penilaian terhadap gerak keseharian kita??

Bagaimana nilai kegiatan kita setiap harinya??apakah kalkulasinya hanya terhitung ketika kita mampu menhadirkan suatu prestasi yang dipuji oleh semua orang,,,apakah ketika kita sudah menghasilkan banyak materi dalam keseharian kita??, atau apakah ketika kita menjadi kebanggaan karena hasil karya yang mengagumkan???,,,

How can we appreciate ourself??

Aku ingin tahu bagaimana Kahlil Gibran menilai dirinya disaat kesendiriannya,

Aku ingin tahu bagaimana plato merenung dalam menilai dirinya dengan kesendirian

Aku ingin tahu bagaimana Aristoteles bahkan Micheal Foucoult menilai dirinya sebagai manusia yang bisa berfikir dengan kesendiriannya???

Bahkan Al-Ghazali juga menilai diri dengan kehati-hatiannya berfikir dan bergulat dalam penghambaan yang sempurna itu juga dilakukan dalam kesendirian, dan aku ingin tahu bagaimana ia menilai dirinya…

Kembali dengan bahsa dalam kitab petunjuk, bahwa memang tak ada yang sia-sia dan luput dalam penilaian Tuhan segala sesuatu yang terjadi di bumi dan dilangit. Aku menemukan bahwa esensi kehidupan semua terhitung oleh Dia yang perhitungannya begitu cepat. 

Konsep kehidupan yang aku nikmati saat ini adalah orang-orang disibukkan dengan label status social kehidupan, sehingga wacana bahkan penilaian untuk kehidupan hanya dibatasi dengan status social saja,,,apakah ia sudah patut dikatakan manusia berfikir, apakah ia sudah menjadi khalifah yang memberi pendefinisian tentang nilai kehidupan, apakah ia sudah beramal karena suatu ibadah atau nilai kasihan bahkan kesombongan social,,,apakah hokum gerak usaha adalah kekuatan mutlak manusia dalam mencapai kesuksesan…apakah semua kesuksesan akan diterjemahkan dengan pelabelan manusia2 bumi,,,,dengan titel2 ciptaan manusia didunia…

Aku menyatakan IYA,,,,karena itulah yang kusaksikan saat ini,,,,tapi aku yakin,,,upaya Einstein menemukan teori relativitas bukan supaya disebut seorang ilmuwan, Newton menemukan teori gravitasinya juga bukan karena ingin dipandang sebagai penemu,,,bahkan Aristoteles,,,dan semua pemikir lainnya jauh daripada status social yang diagung2kan pada masa itu,,,semua mereka lakukan karena mereka memahami diri sebagai makhluk yang berfikir dan hidup,,,itu artinya mereka terus mencari dan menggunakan pemikirannya,,,berfikir sejauh-jauhnya bahkan dengan hasil pemikiran yang tidak bisa dimengerti oleh teman pada masanya,,,tapi pergulatan pemikiran yang jauh membuat mereka menghasilkan karya,,,dan itu sesungguhnya adalah sunnah kehidupan, pada dasarnya itu adalah pemknaan akan kehidupan, flashback lagi dengan realita; berkarya untuk dicinta, berkarya untuk dipuja, berkarya untuk harta,,,atau karena apa???....

Kebisuan Micheal Foucoult menamakan dirinya atas apapun adalah satu bukti bahwa ia adalah salah satu pemikir yang tidak mau disibukkan dengan label2 atau titel2,,,,ia menguasai sejarah, filsafat, psikologi, psikiatri, logika, social, politik, budaya bahkan hampir seluruh konsep keilmuan, tapi ia menantang untuk disebut sebagai seorang ilmuwan, sejarahwan, filsuf, psikolog, sosiolog,,,bukan itu esensi yang ingin diraihnya,,,dan tidak penting manusia lain mengenalnya dengan labelan2 yang demikian itu,,,,tapi apakah kita sudah sepaham atau sudah mencapai klimaks pemikirannya yang terkadang ganjil, tidak familiar bahkan terkesan ngaur, dan sebaliknya terkadang kita langusng mengagumi pemkirananya karena kita lagsung sepaham dengan pendefinisannya,,,

Itulah kenyataan yang berbanding terbalik saat ini, pemikir terdahulu tidak pernah membatasi diri ingin menjadi akademisi, praktisi, dan sebagainya, tapi mereka terus menggunakan pemikirannya untuk memakanai hakikat kehidupan bumi, sehingga tanpa mengagungkan diri sebagai khalifah tapi mereka sudah berhasil memakmurkan kehidupan dengan konsep keilmuannya,

Mereka tidak membatasi diri hanya ingin menjadi filsuf, tapi filsafat itu adalah bagian dari cara mereka untuk terus berfikir dan menemukan pemaknaan yang sistematis. Masihkah aku harus sibuk membatasi diri dari memahami hidup hanya dengan konsen pada beberapa hal saja???,,,bagaimana para manusia saat ini hanya memahami kehidupan dengan konsen yang begitu dangkal…maka benar semakin jauhlah dunia saat ini dari pemikir2 handal,,,karena semua terbatasi hanya dengan beberapa literature yang dikuasainya,,tanpa mau berfikir seluas-luasnya dan cenderung menutup diri dari hal2 lain karena lagi2 kembali dihantui dengan konsen keilmuan yang bersifat pencarian status social semata,,,bukan esensi yang mutlak dari pemaknaan hidup sebagai manusia yang berfikir dan berkarya…

Masihkah harus ada pertanyaan berkarya untuk siapa??

Atau masihkan harus ada jawaban berbuat untuk umat,,,,tak penting sama sekali pertanyaan dan jawaban tersebut, karena semua akan bersatu dalam satu makna ketika diri mampu terus actual dan peka terhadap reaksi kehidupan.

Alur Kebijakan UN dan Pro-Kontra-nya

Sebuah catatan ringan dan kritis oleh Ninin Herlina

Segala kebijakan tentunya melahirkan pro dan kontra. Paling penting adalah bagaimana meminimalisir kecerobohan pembuat kebijakan dalam menanggapi pro-kontra tersebut, Sehingga kita tidak lagi mendengar persepsi-persepsi yang tumpang tindih dari policy maker, yakni sebagaimana pernah diisukan oleh Menteri Pendidikan tentang penghapusan UN. 

Bagaimanapun, keputusan dari setiap kebijakan adalah hal valid yang dinilai memberi manfaat besar terhadap kemajuan pembangunan bangsa. Nah, apabila policy makernya gentar dengan segala kontraversi sehingga menjadi gamang dalam menjalankan misi, maka tidak pantasalah dia menjadi pembuat kebijakan, kira-kira begitulah bahasa ekstrimnya.

Tentunya setiap kebijakan dihasilkan dari upaya analisis SWOT yang matang. Pemerintah senantiasa berupaya menciptakan segala macam kebijakan yang mengarah pada kemajuan bangsa, Iklim persaingan global menuntut Indonesia untuk lebih cepat dalam mengejar ketertinggalan, demikan kasusnya dengan Ujian Nasional yang notabenenya standar kelulusan yang diterapkan di Indonesia tergolong rendah dibanding dengan Negara-negara lainnya. Sehingga pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki kinerja demi perubahan kearah yang lebih baik setiap tahunnya. Peningkatan standar kelulusan yang terus meningkat setiap tahunnya adalah salah satu kebijakan yang diharapkan menjadi pendorong terhadap para pelajar dalam mengasah kemampuannya untuk terus bersaing dan meningkatkan kemampuan dengan belajar yang giat dan tekun.

Pada dasarnya, konsep belajar yang mesti ditanamkan dalam diri siswa atau pelajar adalah bahwa belajar itu adalah kebutuhan mereka. Sudah semestinya mereka menggunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar. Jadi, menurut saya tidak ada itstilah UN itu tidak fair, karena hanya diukur dari kegiatan ujian yang hanya berlangsung 4 atau 3 hari, atau dengan alasan soal-soal ujian yang disamaratakan seluruh Indonesia sementara sistim belajar dan kualitas pengajaran pasti berbeda setiap daerah apalagi jika membandingkan daerah pelosok dengan ibukota Negara. Sehingga alasan-alasan klasik itu semua menjadi pemicu terjadinya berbagai kontraversi dari dulu sampai sekarang. Padahal, sesungguhnya pemerintah mesti terus didukung untuk mengejar keunggulannya dalam persaingan global, khususnya dalam hal pendidikan. 

Sangat miris ketika Indonesia selalu dicap memiliki rating kualitas pendidikan kategori rendah, padahal kita bisa menyaksikan bahwa sebenarnya anak-anak Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk maju yakni dalam berbagai olimpiade anak Indonesia masih bisa bersaing dengan dunia luar, tapi kenapa kita justru mengkerdilkan diri dengan menghujat segala kebijakan dengan menyebutnya sebagai pemicu keruntuhan mental siswa, membunuh karakter siswa dan sebagainya.

Namun, dalam hal ini pemerintah juga perlu menganalisis kembali sebagai bahan evaluasi sejauh mana implementasi UN membantu bangsa dalam menciptakan generasi-genrasi berkarakter, apabila pelaksanaan UN hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa evaluasi yang jelas terhadap perkembangan peserta didik, maka kesimpulannya adalah pendapat-pendapat khalayak yang digeneralkan oleh policy maker sendiri, yaitu implementasi UN sama sekali tidak penting, karena memang kenyataannya tidak ada pengaruh positif yang dirasakan masyarakat selama ini. 

Pelaksanaan UN cukuplah menjadi ajank pemerintah dalam unjuk kebolehan di tingkat kompetensi global, sementara ditilik dari dalam semakin amburadul, yakni dengan ditemuinya berbagai kecurangan massif baik ditingkat lokal maupun nasional. Maka, masihkah kita bertanya, pentingkah UN?, sama halnya kita bertanya masih pentingkah Pendidikan?. Karena esensi UN adalah salah satu indicator dalam menghadapi kelulusan, tentunya semua anak bisa mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan, ketekunan dalam belajar serta diiringi doa yang kuat.

Namun realita selanjutnya adalah sifat manusia yang digerogoti oleh keinginan untuk instant success, sehingga esensi daripada ikhtiar sama sekali tidak menjadi ukuran dalam kehidupan. Padahal kalau mau jujur semua hasil sudah ditentukan Tuhan tapi sejauh mana kita belajar untuk meningkatkan dan memaksimalkan usaha. Dunia pendidikan saat ini hanya menjadi sebatas tempat berkumpul dan mencari legalitas intelektual dan masa bodo dengan kualitas emosional generasi, sehingga banyak dijumpai anak-anak sekolah yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan hura-hura daripada belajar. UN pun sudah tidak menjadi pendorong untuk meningkatkan kualitas belajar, karena kehidupan hedon sepertinya makin dinikmati oleh generasi bangsa kita saat ini.

Untuk para pembuat kebijakan, maka bersikap tegaslah dalam menjalankan visi pembangunan bangsa, harus ada upaya evaluasi dalam melihat kesuksesan suatu kebijakan, bukan pula harus menjadikan kebijakan sebagai suatu trial and error. Beberapa hal yang mesti dievaluasi adalah:

1. Pemaknaan pendidikan itu sendiri bagi tenaga pendidik, karena banyak dijumpai para pendidik yang menjadikan sekolah sebagai tempat  showing new style atau just transfer knowledge setiap harinya, sehingga tidak ada perhatian khusus dengan perkembangan belajar peserta didik.  

2. Pentingnya memahami pola evaluasi dan bentuk evaluasi dalam dunia pendidikan, Dalam hal ini, pelaksanaan UN dianggap sesuai dalam mengukur kemampuan siswa untuk kelulusan, karena proses belajar selama tiga tahun hanya dites dengan sejumlah soal-soal saja, dari segi kognitif adalah hal yang absah, mengingat etika dalam evaluasi pendidikan juga sangat memperhatikan bias atau subjektifitas, sehingga pengukuran dengan soal-soal UN dinilai tepat. Berbicara dengan komponen pembelajaran lainnya, misalnya afektif dan psikomotorik, maka indikatornya adalah pribadi (soft skill) yang tergambar dalam personnya.  

3. Sistem kebijakan yang ramah terhadap lingkungan pendidikan senusantara. Karena tidak fair juga kalau pemerintah sibuk membuat kebijakan dengan alasan meningkatkan mutu pendidikan, sementara pembenahan dari dalam tidak sesuai, maka penting sekali untuk meninjau aspek-aspek kearifan lokal untuk membangun suatu daerah, artinya pemerintah juga harus memberi wewenang kepada para sekolah atau dinas pendidikan dalam menyusun kebijakan lokal. Misalnya, UN merupakan standar kelulusan tingkat nasional, namun dalam tingkatan regional pemerintah daerah memiliki suatu ketetapan dalam melihat ukuran kelulusan atau keberhasilan peserta didiknya, yakni sesuai dengan kebutuhan daerah. 

Karena melihat kenyataannya, tidak semua juga peserta didik akan bersaing ke tingkatan nasional, maka segala macam kebijakan tentunya harus diciptakan demi kemaslahatan ummat. Wallahu’alam.  

28 April 2011