Tampilkan postingan dengan label REVIEW BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW BUKU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

NAYLA

Resensi novel oleh: Mohamad Sahril

Seperti yang terlihat pada sampul buku ini, novel ini dikemas melalui cara pandang seorang penulis jujur. Jujur tentang apa yang ia ceritakan. Di samping sampulnya tercetak catatan kecil: ‘untuk pembaca dewasa’. Nayla adalah buah karya Djenar Maesa Ayu. Pertama kali diterbitkan pada Juli 2005. Dan diterbikan hingga tiga kali pada tahun tersebut. Kebanyakan orang (pembaca) menilai karya sastra ini diramuh secara vulgar oleh penulisnya. Namun menurutku, Djenar telah berlaku jujur menyajikan hasil olah rasa dan pikirnya.

Dengan begitulah, Djenar secara sendirinya terkelompokkan sebagai penlis-penulis perempuan yang beraliran feminisme. Sebuah arus pergerakan pengkapanyean gender melalui karya sastra. Dalam buku ini, Djenar mencoba mengurai konflik tokohnya, Nayla, sebagai perempuan yang telah mengalami pelecehan seksual sejak kecil. Keluarga Nayla yang bergaya seperti kebanyakan keluarga dalam kehidupan mertopolitan, membuat Nayla bingung menentukan siapa yang sebenarnya yang akan ia jadikan panutan. Sementara sejak masa kecilnya, ayahnya telah menikah dengan seorang perempuan yang lebih muda dari ibu kandungnya.

Menurut ibunya, kedisiplinan yang diperlakukan kepada Nayla adalah latihan. Agar Nayla kuat dalam menghadapi hidup. Hal itu bertolak belakang dengan nurani Nayla. Kebiasaan ngompolnya tidak dengan sertamerta hilang ketika ibunya menusuk organ privatnya dengan peniti. Dan yang terjadi malah sebaliknya, Nayla takut terlelap karena takut ngompol. Ia tak merasakan lagi sakitnya tusukan peniti.

Kedisiplinan yang ia terima dari ibunya menjadi ‘ambigu’. Di satu sisi, ia dipaksa untuk melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Di sisi lain, apa yang ditunjukkan ibunya dengan membawa laki-laki lain ke rumahnya, atau mengajak Nayla bertemu pacar-pacar ibunya di sebuah restoran atau hotel berbintang, membuat Nayla lelah. Ia tak tahu, seperti apa sebenarnya ibunya.

Dari kebiasaan itulah, Nayla mengalami pelecehan seksual dari Om Indra, pacar ibunya yang paling dekat.

Nayla ingin pindah ke rumah ayahnya. Ia ingin bebas dari kungkungan ibu kandungnya. Situasinya seketika berubah, saat ayahnya meninggal. Dan ia dituduh ibu tirinya telah mengkonsumsi Narkoba. Pengalaman pahit kembali mewarnai hidupnya. Ia dijobloskan dalam rumah rehabilitasi pengguna Narkoba. Ia mencoba kabur. Dan akhirnya lolos.

Kebebesan yang ia temui benar-benar sebuah kebebasan yang ia inginkan. Ia bebes menentukan apa yang ia ingin lakukan, tanpa bayang-bayang ibunya. Nayla menyelami kehidupan ibukota dengan segala konsekwensinya. Ia menjadi seorang juru lampu di sebuah diskotik terkenal. Ia berkenalan dengan Juli, karyawan senior di tempat kerjanya. Mereka saling jatuh cinta dan bersepakat tinggal serumah. Ia juga mengenal Ben. Mereka juga sempat menjalani hubungan cinta. Bagi Nayla, jenis kelamin bukan soal. Yang penting adalah kasih sayang. Itulah kebebasan yang ia pahami. Ia terlibat aksi perampokan bersama teman-temannya. Ia pernah ditahan polisi. Ia merokok. Ia minum anggur. Ia kelayapan hingga larut malam.

Dalam novel ini, Djenar juga memberi kelebihan terhadap Nayla. Ia pandai menulis. Menulis segala cerita dalam hidupnya. Naila merekam semua yang ia alami. Kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami. Kekerasan dalam berpacaran, baik dengan Juli maupun Ben. Fisik maupun Phisiks.

Membaca buku ini, anda akan jarang tersenyum atau tertawa. Djenar mengkonstruksi kalimat-kalimat pendek dan cepat. Ia membagi bagian-bagian cerita juga menjadi lebih pendek. Di awal, mungkin anda akan sedikit bingung. Dan kebingungan itu akan dijawab di bagian-bagian akhir. Hal-hal yang dianggap tabuh, menjadi suatu hal biasa dalam buku ini.

Terus terang, saya masih ragu untuk memastikan buku ini berisi penggambaran gerakan feminisme. Dalam kehidupan metropolitan, semua orang hampir diberi kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan. Hampir tak ada sekat-sekat yang dikonstruksi oleh budaya. Seperti apa yang ditunjukkan pada sikap semua tokoh di dalam novel ini, persoalan pilihan hidup menjadi sebuah kebebasan bagi setiap individu. Yang dapat disimpulkan dari penggambaran cerita setebal 178 halaman ini adalah; bahwa penerapan kedisiplinan bisa berbuah pembangkangan, dan bahkan pemberontakan. Nayla ingin kebahagiaan, dari siapa saja. Tidak memandang jenis kelamin dan status sosial.

PEREMPUAN KEMBANG JEPUN

Resensi Novel oleh: Mohamad Sahril

Sebuah novel percintaan lintas budaya berlatar belakang perang dunia kedua karya Lan Fang. Dengan alur maju mundur yang merambat pelan, novel ini membedah satu per satu persaan para tokohnya, dibingkai di masing-masing bagian untuk kemudian disimpulkan pembaca sendiri. Dan bisa jadi anda merasa menjadi saksi dari perjalanan cinta Sujono, Sulis dan Matsumi. Cerita dimulai dengan mengulas kemiskinan keluarga Sulis yang menyebabkan dirinya dibawah ke kota oleh orang tuanya, diserahkan hidup bersama si Mbah.

Bernaung di rumah petak penuh sesak, Sulis menjalani hari-harinya sebagai perempuan penjual jamu gendong. Sulis digambarkan tidak sebagai tokoh seksi sebagaimana Matsumi. Ia hanya wanita pribumi Jawa dengan perawakan pas-pasan, menjajakkan jamu kepada tukang becak dan kuli pelabuhan di Tanjung Priuk Surabaya.

Sebagai perawan belasan tahun yang belum pernah mengenal seluk beluk dunia lelaki, Sulis acap kali disentuh Wandi, tukang becak yang dianggap Sulis lelaki paling baik yang ia kenal. Wandi jualah yang mengenalkan Sulis pada dunia lelaki, hanya dengan dorongan nafsu semata. Rasa cinta di antara keduanya tak bisa diwujudkan dalam bentuk pernikahan, karena Wandi adalah lelaki beristri dan sudah berusia lebih tua dari Sulis.

Lan Fang kemudian menghadirkan tokoh lelaki lain yang tampang dan profesinya tak jauh beda dengan Wandi. Ia adalah Sujono, yang juga menaksir Sulis diam-diam. Kuli pengangkut barang di sebuah toko kain milik Babah Oen di daerah Pecinang Surabaya. Daerah itu sering disebut sebagai segi empat emas di Surabaya. Sulis mengenal Sujono dari pekerjaan yang ia lakoni sehari-hari sebagai penjual jamu. Sujono sering berutang dan suka mencuri-curi pandang. Sulis pun tergoda. Dan pada suatu malam di rumah petak Sulis, Sujono dalam keadaan mabuk mendatangi dan menyetubuhi perempuan penjual jamu gendong itu.

Perputaran waktu perlahan mengantarkan Sulis pada situasi yang lebih sulit. Perutnya buncit dan siap melahirkan. Ia tak tau benih siapa yang telah berbuah di rahimnya. Wandi atau Sujono. Dalam kegamangannya, Sulis hanya berfikir untuk menggantungkan harapan pada Sujono. Sebab ia tak mau menjadi isteri kedua Wandi. Sementara Sujono menolak keras keinginan Sulis untuk dinikahi. Sujono menganggap janin itu bukan miliknya, tapi Wandi.

Sulis berusaha semampunya hingga akhirnya dinikahkan dengan Sujono dengan bantuan warga. Maka lahirlah Joko di kamar petak sempit milik Sulis. Kehidupan makin menghimpit mereka. Upah dari pekerjaan Sujono sebagai kuli di toko kain, lebih banyak ia habiskan untuk membeli rokok dan minum-minum. Sulis semakin merasakan getirnya hidup. Setiap hari pertengkaran terjadi di antara pasangan muda itu.

Hingga suatu saat, pekerjaan sebagai kuli panggul kain membawa Sujono mengenal seorang perempuan jepang, Matsumi. Ia adalah perempuan yang sengaja diseludupkan dari Kyoto saat Jepang akan melakukan ekspani ke wilayah asia termasuk menguasai Indonesia. Di Kyoto, Matsumi telah menjadi seorang Geisha paling terkenal dengan bayaran termahal. Itu juga sudah menjadi impiannya sejak kecil. Dan lagi-lagi, ia melakukan itu berawal dari himpitan ekonomi di keluarganya. Kedatangannya ke Indonesia karena diminta oleh Shosho Kobayashi, seorang Mayor jendral Jepang yang ditugaskan di Indonesia untuk memimpin agresi. Di Kyoto, Shosho Kobayashi adalah pelanggan tetap Matsumi.

Untuk mempertahankan martabat bangsa, Matsumi harus berganti nama. Ia tidak bisa menujukkan identitas sebagai orang Jepang di Indonesia, karena Geisha hanya ada di Jepang. Tidak di negara lain. Ia harus mengganti namanya menjadi Tjoa Kim Hwa, yang artinya ular bunga emas. Dengan begitu, ia akan dikenal sebagai perempian Cina yang berprofesi sama dengan perempuan lainnya di Kurabu, kelab hiburan di Jalan Kembang Jepun Surabaya.

Disinilah ia mengenal Sujono. Dengan keaanggunan dan kemolekkan wajah yang ia miliki, Sujono pun tergoda dan berniat menyaingi Shosho Kobayashi untuk bermain memadu cinta dengan Matsumi. Niat Sujono pun tercapai setelah berhasil mencuri uang Babah Oen untuk membeli Matsumi. Sensasi baru dari permainan cinta yang ditujukkan Sujono mengantarkan Matsumi sebagai seorang perempuan yang berhak mendapatkan kenikmatan dari setiap hubungan badan.

Sebagai Geisha, bertahun-tahun ia benar-benar barlaku hanya sebagai pemuas. Tak pernah terpuaskan. Pelanggaran yang menurutnya selama ini telah memenjarahkan gairahnya sebagai perempuan telah terbebaskan dengan sepak terjang Sujono di atas ranjang. Tak jarang, hasil pekerjaannya melayani tamu-tamu besar ia berikan kepada Sujono, agar Sujono bisa menemuinya lagi di Kurabu. Bukan sebagai kuli panggul kain, tapi sebagai tamu.

Dan pada suatu hari, gairah mereka pun memuncak dan lebih berkembang. Pengaruh Sujono bukan hanya saat berhubungan badan, tapi juga berhasil mencuci otak Matsumi. Dan ajakan hidup bersama yang ditawarkan Sujono diterima mentah-mentah oleh Matsumi tanpa berfikir panjang. Walaupun ia mengetahui bahwa Sujono telah beristeri dan mempunyai anak.

Sementara Sulis sendiri juga sudah semakin berubah. Gonggongannya sudah jarang terdengar. Karena Sujono telah memberikan apa yang ia minta, uang belanja dan jajanan Joko sudah dipenuhi. Meskipun ia tak tahu pada awalnya, bahwa uang-uang itu adalah hasil jeripayah Matsumi.

Lama kelamaan, hubungan tanpa jalinan pernikahan Sujono dan Matsumi menemukan titik nadir. Matsumi sadar kalau Sujono bukanlah lelaki yang pantas dijadikan sandaran hidup. Ia harus kembali ke kelab hiburan untuk memenuhi uang belanja dan asupan gizi puterinya, Kaguya. Meskipun bangsanya telah berhasil menguasai Indonesia, namun siatuasi Matsumi bertolak belakang dengan keadaan. Ia menderita atas pilihannya sendiri untuk hidup bersama Sujono. Kekuasaan jepang tak berlangsung lama, setelah menaklukkan pendudukan Belanda di Indonesia. Agresi sekutu menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, membuat kekuasaan Jepang di daerah-daerah kolononya termasuk Indonesia semakin tak bisa dipertahankan. Hingga akhirnya, bangsa Indonesia memanfaatkan situasi itu untuk memproklamirkan diri sebagai bangsa yang telah merdeka.

Nasib Matsumi pun semakin terjepit. Ia harus kembali ke Jepang. Pilihan itu bukan hanya karena pesan gurunya dulu di Kyoto sebagai seorang Geisha, tapi karena saat itu terjadi swiping terhadap warga Jepang di Indonesia. Akhirnya ia harus kembali ke Jepang bersama kapal-kapal Cina, dan harus meninggalkan Kaguya di sebuah panti asuhan.  Ia tinggalkan Surabaya dengan seluruh penyesalan. Ia meresa seperti burjudi meninggalkan putrinya tanpa tau kapan ia akan kembali menjemputnya.

Sekilas, sulit bagi saya untuk memastikan bahwa novel ini beraliran feminisme. Setelah mendalaminya dengan mencermati kandungan di luar teks, menghubungkan setiap makna yang terselip dibalik pemberontakan isi hati para tokoh perempuannya, ternyata novel ini telah menggambarkan sebuah perlawanan bagi kebudayaan dan peradaban manusia. Menggoyahkan patriarki yang selama ini dikenal sebagai entitas bagi kebudayaan-kebudayaan lama, termasuk Jepang dan Indonesia. Perjalanan Matsumi kembali ke negara asalnya ternyata tak sia-sia. Ia temukan lagi kebahagiaannya di sana sebagai seorang perempuan, sebagai manuasi yang layak mendapat kasih-sayang, bukan sekedar pemuas nafsu atau sekedar menjadi objek penderita dalam kehidupan manusia.

Novel ini pertama diterbitkan oleh PT Grmedia pada tahun 2006. Dan kembali dicetak dengan tebal 288 halaman dalam ukuran 20 sentimeter pada tahun 2007. Lan Fang sendiri termasuk penulis muda berbakat kelahiran Banjarmasin tahun 1970. Ia telah menyelesaikan dan menerbitkan beberapa novel sebelumnya, seperti Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005) dan Reingkarnasi (2003).

SOE HOK GIE: Sekali Lagi..!

Review buku oleh: Mohamad Sahril
Ini adalah buku non fiksi dengan berbagai sudut pandang penulisnya, tentang sosok pemuda idealis yang hidup pada akhir rezim orde lama. Dengan kegigihan dan keteguhan jiwanya, idealisme yang ia miliki mengantarkan dirinya terjun bersama para mahasiswa lain menjadi demonstran pada tahun-tahun 1960an. Ia adalah Soe Hok Gie, pemuda keturunan Tionghoa yang oleh kawan-kawannya ketika itu sering disebut ‘China kecil’. Kumpulan cerita ini diawali dengan detik-detik terakhir kehidupan Soe Hok-Gie.
Ia menemukan akhir hidupnya di dataran tertinggi pulau Jawa, yakni di Puncak Mahameru gunung Semeru Jawa Timur, pada 16 Desember 1969. Dimana ketika itu ia akan memasuki usianya yang ke 27, ia bertemu maut pada saat-saat sehari menjelang hari jadinya. Kesetiaan dalam pertemanan sebagai sesama pendaki, juga akan diulas tuntas oleh Rudy Badil, kawan Gie yang menjadi saksi dalam tragedi Semeru itu.

Buku berukuran 17,5 X 22 sentimeter ini dikemas elegan dengan bahasa populer dalam tutur-tutur kawan-kawan seangkatan Gie ini, mengulas kisah-kisah penting sang pejuang, waratwan lepas, kolumnis yang juga seorang dosen di Universitas Indonesia.

Sungguh sebuah pengabdian tulus terhadap bangsa, yang luput dari rekaman rentetan catatan-catatan sejarah. Orang bijak pernah berkata bahwa “Sejarah hanyalah milik orang-orang yang menang”. Dan saat itu sebenarnya, kehidupan Gie bukan diperhadapkan pada posisi menang atau kalah. Tapi pada posisi perjuangan membangkitkan semangat pemuda (mahasiswa) menyikapi berbagai fenomena sosial politik, budaya dan ekonomi sebelum dan sesudah bubarnya PKI, dan berakhirnya kekuasaan Soekarno.

Dalam ketebalan 512 halaman, buku ini akan menghantarkan pembacanya pada situasi pertarungan rasa, melalui penggambaran situasi yang terjadi saat Gie aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Semua disajikan langsung dari kedalaman rasa para pelaku sejarah pergerakan mahasiswa Universitas Indonesia, yang tak lain adalah kawan-kawan dekat Gie.

Di halaman-halaman hampir separuh buku ini, anda akan menemukan catatan seorang sahabat yang juga wanita pengagum Gie. Ia adalah Kartini Sjahrir (Ker) yang mengulas kekaguman dan rasa cintanya terhadap Gie dalam sepuluh surat yang ditulis sejak 1968. Bagaimana Gie di mata perempuan (mahasiswa) kala itu, catatan Ker bisa menjadi representasinya.

Ada sedikitnya 25 orang yang juga berkontribusi memberikan catatan-catatan mereka tentang Gie, termasuk Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti dan Nessi Luntungan R, yang menjadi penulis inti dalam buku ini. Dengan gaya deskriptif seperti dalam penulisan feature catatan perjalanan dan catatan dalam buku diary, buku ini akan menghantarkan kita pada sebuah perenungan, bagaimana seseorang bisa menjadi sebegitu idealisnya dengan kesederhanaan yang dimiliki keluarganya, dan itulah yang menghantarkannya pada ketenaran sebagai seorang penulis lepas di koran-koran nasional. Hobinya dalam berdiskusi, membaca, menonton film dan mendengarkan lagu-lagu kerakyatan, membuat Gie semakin kaya dengan pengetahuan tentang dunia luar.

Sesungguhnya, buku ini dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada Gie dan kepada kita semua yang masih teguh pada perjuangan melawan tirani yang saat ini samar namun ada. Bergentayangan di balik tirai-tirai rumah para penguasa dalam gaya yang berbeda dengan orde baru maupun orde lama. Bagi Rudy Badil dan kawan-kawan, buku ini sebagai persembahan untuk merayakan 40 tahun tragedi Semeru (1969-2009), dimana Gie dan Idhan Dhanvantari Lubis menutup lembaran-lembaran perjalanan keduniawiannya.

Buku ini penting untuk dibaca sebab banyak hal yang belum sempat diulas pada film Gie yang diagrap oleh Riri Riza. Riri, Nicholas Saputra, dan Mira Lesmana juga turut ambil bagian dalam buku ini. Menyumbangkan catatan mereka untuk memperkaya buku ini dengan prespektif orang yang hidup di masa 1990-2000an.

Bagi saya, ini adalah buku wajib bagi para mahasiswa semester satu yang mau belajar menjadi seorang mahasiswa (aktivis). Bukan untuk diikuti sepenuhnya, tapi hanya sebagai bahan untuk membaca situasi di masing-masing kampusnya. Gie hidup di masa 1960an, anda hidup di masa 2000an, maka berlakulah selayaknya anda sekarang sebagai mahasiswa.

CALON ARANG

Resensi Buku oleh: Mohamad Sahril
Dongeng ini sangat khas dengan cara bertutur Pram dalam tulisan-tulisannya. Simpel dan enteng untuk dibaca. Dari beberapa buku-buku Pram, mungkin Cerita Calon Arang adalah satu di antara yang paling tipis dengan jumlah bahasan 92 halaman dan terdiri dari dua belas bagian. Atau mungkin inilah buku yang paling simpel yang ditulis Pram?

Dongeng yang diangkat dari cerita rakyat Jawa Timur ini berkisah tentang seorang janda kampung. Janda yang gemar melakukan praktek ilmu teluh. Ia senang menganiaya, merampas dan menyakiti. Seperti dalam tulisan-tulisannya yang lain, Pram menuliskan Cerita Calon Arang dengan runut dalam alur maju.

Dalam cerita itu, konon pada jaman dahulu kala, ada sebuah negeri termashur di Jawa timur yang dulunya bernama Daha, dan sekarang menjadi Kediri. Kemashuran negeri itu telah tersebar kemana-mana.
Dalam cerita ini, melalui tangan Pram digambarkan negeri yang damai, rakyatnya sejahtera, tak ada kasus busung lapar, tak ada rusuh pembagian zakat.

Semua warga hidup dalam ketentraman. Namun di sebuah desa di luar kota yang diperintah oleh Raja Erlangga itu, terdapat seorang perempuan tukang sihir. Calon Arang namanya. Hidup bersama seorang putrinya yang cantik namun tak bersahabat.

Tak satu pun warga yang berani menegur sang gadis jika berpapasan. Sebab jika tersinggung, maka sang gadis akan melaporkan itu kepada ibunya yang tukang sihir itu. Maka dalam waktu yang tak terlalu lama, orang itu akan mati akibat mendapat teluhan dari Calon Arang.


Dalam cerita ini, Pram menggambarkan praktek ilmu teluh secara fulgar. “Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan binatang buas, takut orang melihatnya, yang jika ketahuan mengintip orang itu akan diseret ke tengah pesta dan dibunuh, dan darahnya akan digunakan untuk berkeramas oleh para pengikut Calon Arang”.

Nyaris seisi negeri dikuasai Calon Arang ketika ia melakukan praktek peneluhan secara besar-besaran. Wabah penyakit menyerang seisi negeri, dan membunuh warga secara masal. Raja pun kewalahan menanganinya, mantra harus dilawan dengan mantra. Maka diutuslah orang dalam istana untuk menemui Empu Baradah di subuah dusun di kaki gunung. Hanya sang empuhlah yang bisa mengalahkan kesaktian Calon Arang. Raja memercayai itu.

Dalam operasi yang sangat cerdik, akhirnya Empu Baradah berhasil menumpas Calon Arang, dengan mempelajari kitab bertuah milik Calon Arang. Dan seisi negeri pun bisa kembali seperti sedia kala. Sang Raja pun berkeinginan untuk menjadi pendeta dan melakukan pertapaan mengikuti jejak Empuh Baradah. Tak ada kejahatan, kepongahan, yang abadi. Melainkan kebaikan (ilmu) yang terus bertahan hingga akhir zaman.

Inilah gaya dongeng. Layak dibaca atau diceritakan kepada anak-anak kita saat mereka tidur di malam hari. Dongeng ini pertama kali naik cetak pada 1954 oleh NV Nusantara. Cetakan keduanya adalah edisi Bulgaria. Kemudian pada tahun 1999 dicetak kembali dalam edisi Indonesia, dan pada 2002 dicetak dalam edisi Singapore oleh Equinox.

Setahun setelah cetakan edisi Singapore, edisi Spanyol kemudian menyusul dicetak oleh Editorial Cruilla. Sementara buku yang saya baca ini adalah cetakan tahun 2006 oleh Lentera Dipantara, dengan ukuran 13×20 cm dan ketebalan 94 halaman ditambah kata pengantar, termasuk cetakan kedua, setelah cetak pertama dengan hak cipta Pram pada tahun 2003.

Berbeda dengan buku-buku yang lain yang ditulis Pram, buku ini simple dan seakan-akan Pram menulisnya hanya menambahkan bumbuh-bumbuh sastra seadanya, tanpa melibatkan unsur subjektifitas. Hampir tak ada yang dilebih-lebihkan kecuali khayal kita yang akan terbang ke suasana desa yang dulu, jauh ke belakang di zaman kerajaan. Jika anda mempunyai waktu luang barang sedikit, tak sampai pada menit ke 120 anda akan hatam dengan dngeng ini.

Menurut Pram dalam pengantarnya, cerita tersebut dikarang pada tahun Caka 1462. Tulisan lamanya ada dua macam, yaitu berasal dari Jawa dan diterjamahkan ke Bahasa Belanda oleh R.Ng.Prbatjaraka dalam Bijdr. Kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1931. Sesungguhnya, crita ini ada dua versi, yakni versi Jawa dan Bali. Memang kedua nama ini: Erlangga dan Bharada adalah dua nama yang paling berpengaruh dalam sejarah Hindu Jawa.
Penasaran? Bacalah kan..!

LARASATI


 Sebuah Resensi Buku oleh: Mohamad Sahril.
Tiba-tiba aku menjadi kaku. Bagaimana dan darimana harus memulainya. Semua mengaduk dalam sadar. Bukan karena tidak dalam keadaan mood, tapi perhatian ini nyaris beterbangan ke masa lalu, yang tak pernah saya temukan, karena memang itu telah lalu. Telah lampau.  Dan kelampauan itulah yang membuat roman ‘Larasati’ yang ditulis Pramoedya Ananta Toer ini menjadikan saya terhuyung-huyung membayangkan masa revolusi. Masa ketika semangat pemuda telah dibuktikan.

Dari sudut pandang Larasati sebagai tokoh kunci dalam roman ini, dimulailah cerita dengan alur maju yang sesekali menghentak. Bermula perjalanannya dari daerah pedalaman (Yogyakarta) menuju daerah pendudukan (Jakarta) menggunakan kereta, berdesak-desakan merasakan hawa revolusi yang dibakar semangat pemuda yang ia lewati di perjalanan.

Larasati adalah seorang artis, bintang film yang akrab dimata masyarakat ketika itu. Kemolekkan tubuhnyalah membuat ia dipuja-puji di panggung, bermain peran, bermain dalam film-film propaganda Belanda. Hingga berkenalan dengan petinggi negara. Ia juga akrab dengan pria hidung belang. Tapi ia adalah revolusi.

Ia saksikan orang-orang dengan senjata berseragam kusam dan gondrong, jarang bersampo, dengan semangat revolusi berapi-api, dari balik jendela kereta. Mereka bersorak ketika melihat Larasati “Ara, Ara, sukses…selamat,” dan Larasati hanya tersenyum. Namanya lebih akrab dipanggil Ara.

Beberapa kesempatan dalam kereta ia lewati dalam buruk sangka. Ia lebih menduga-duga daripada berpikir positif kepada lelaki-lelaki dalam perjalanan itu. Hingga ia pun sadar kalau semua lelaki itu adalah pejuang revolusi. Rasa penyesalan hadir ketika para lelaki itu turun dari kereta, dan Ara baru mengetahui itu semua, tanpa sempat berkenalan dan meminta maaf.

Setibanya di Cikampek, Ara memulai perjuangannya. Sempat ia menyaksikan kepiluan yang dialami para pemuda (orang republikan) dalam penjara. Disiksa hingga tewas. Dengan watak kerasnya dan tak kenal kompromi, Ara berusaha dan berdoa agar lolos dari Cikampek dengan bantuan Martabat, sopir kolonel Surjo Sentono.

Cerita pun berjalan lebih dinamis ketika Ara lolos dari rayuan Mardjohan, seorang penyiar dari Jakarta yang menghianat bergabung dengan Nica (Nederlandsch Indiƫ Civil Administratie), Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Bersama Martabat, pemuda yang diam-diam juga adalah orang republikan itu, Ara menemui ibunya di kampung di Jakarta.

Pram kembali menggambarkan semangat revolusi dari para pemuda di kampung Larasati itu. Kampung yang setiap malam-malamnya diramaikan dentuman granat dan rentetan tembakan senjata mesin oleh tentara Nica. Disinilah Ara menemukan semangat jaung yang lebih nyata dari orang-orang muda. Ia pun terlibat dalam peristiwa heroik di sebuah malam, untuk membuktikan kepada para pemuda kalau ia dan Tabat juga bagian dari revolusi itu.

“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau berani tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita” kata komandan pemuda desa saat bersama Ara dalam malam terakhirnya.
Kebebasan Ara pun tertawan karena ulahnya sendiri. Ia tak menghiraukan permintaan ibunya agar pergi jauh dari kampung naas itu. Ia pun disekap Jusman, pemuda arab yang juga mata-mata Nica, setelah bertemu seorang penyair dari Yogya, Chaidir, dalam keadaan perut kosong dan tubuh yang lemas.

Nyaris ia menyerah pada keadaan ditawan tanpa status, bukan isteri bukan kekasih. Ia hanya memantau perjalanaan revolusi melalui radio dan koran. Kematian Chaidir yang ia baca di Koran bersamaan dengan dikuasainya Yogya oleh Nica. Ia menyerah dalam hati, mengatakan itu semua pada ibunya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun lepas dari tawanan Jusman dengan pengorbanan ‘berdarah-darah’. Dan revolusi menemui kemenangan. Ara pun kembali bertemu mantan kekasinya, Oding. Ia tinggalkan gubuk reot di desa, pindah bersama ibunya serumah dengan Oding di gedung bekas bangunan Belanda dalam suasana kemerdekaan.

Itulah Larasati dengan caranya sendiri dalam perjuangan. Dalam revolusi pasca proklamasi. Cerita ini pertama kali dipublis, naskahnya dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar Bintang Timur kolom budaya, mulai 2 April 1960 hingga 17 Mei 1960.

Dan setelah itu dibukukan mulai tahun 2000 oleh Hasta Mitra dan disusul cetakan berikutnya oleh Lentera Dipantara hingga edisi ke lima, dengan tebal 180 halaman dan ukuran 13X20 cm. Saya menyarankan anda untuk membacanya, biar keciprat perasaan dan semangat juang masa lalu. Masa Revolusi.